Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 09, 2007

Bayi Kuning

Bahasan akhir pekan:
Bayi kuning, adakalanya alamiah, adakalanya karena penyakit

Kode ICD.10 (Interntional Classification of Diseases) : P58-59: Neonatal jaundice

Ikterus: (jaundice) adalah warna kekuningan pada kulit dan selaput mata.
Neonatorum: adalah bayi baru lahir.

Kata kunci: ikterus, icterus, kulit kuning, neonatus, neonatal jaundice, bilirubin, hiperbilirubinemia, jaundice.

Pembaca mungkin pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri seorang bayi baru lahir berwarna kuning di sekujur kulit dan selaput matanya. Warna kuning dapat terlihat beberapa jam hingga beberapa hari setelah lahir. Kemunculannya tak jarang mengundang tanya, mengapa kulit si bayi berwarna kekuningan sementara bayi yang lain tidak? Apa penyebabnya ? Adakah yang salah ? Dan mungkin berbagai pertanyaan mengiringi kemunculan warna kuning pada kulit bayi baru lahir.

:: :: :: PENGERTIAN :: :: ::
Ikterus neonatorum (bayi baru lahir berwarna kuning) adalah kondisi munculnya warna kuning di kulit dan selaput mata pada bayi baru lahir karena adanya bilirubin (pigmen empedu) pada kulit dan selaput mata sebagai akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia).

:: :: :: ANGKA KEJADIAN :: :: ::
Warna kekuningan pada bayi baru lahir adakalanya merupakan kejadian alamiah (fisologis), adakalanya menggambarkan suatu penyakit (patologis).
Bayi berwarna kekuningan yang alamiah (fisiologis) atau bukan karena penyakit tertentu dapat terjadi pada 25% hingga 50% bayi baru lahir cukup bulan (masa kehamilan yang cukup), dan persentasenya lebih tinggi pada bayi prematur.

Disebut alamiah (fisiologis) jika warna kekuningan muncul pada hari kedua atau keempat setelah kelahiran, dan berangsur menghilang (paling lama) setelah 10 hingga 14 hari.Ini terjadi karena fungsi hati belum sempurna (matang) dalam memproses sel darah merah.
Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah tidak melebihi batas yang membahayakan (ditetapkan).

:: :: :: PARAMATER :: :: ::
Ada beberapa batasan warna kekuningan pada bayi baru lahir untuk menilai proses alamiah (fisiologis), maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit (patologis), agar kita lebih mudah mengenalinya.

Secara garis besar, batasan kekuningan bayi baru kahir karena proses alamiah (fisiologis) adalah sebagai berikut:

  • Warna kekuningan nampak pada hari kedua sampai hari keempat.
  • Secara kasat mata, bayi nampak sehat
  • Warna kuning berangsur hilang setelah 10-14 hari.
  • Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah kurang dari 12 mg%.

Adapun warna kekuningan pada bayi baru lahir yang menggambarkan suatu penyakit (patologis), antara lain:
  • Warna kekuningan nampak pada bayi sebelum umur 36 jam.
  • Warna kekuningan cepat menyebar kesekujur tubuh bayi.
  • Warna kekuningan lebih lama menghilang, biasanya lebih dari 2 minggu.
  • Adakalanya disertai dengan kulit memucat (anemia).
  • Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah lebih dari 12 mg% pada bayi cukup bulan dan lebih dari 10 mg% pada bayi prematur.

Jika ada tanda-tanda seperti di atas (patologis), bayi kurang aktif, misalnya kurang menyusu, maka sebaiknya segera periksa ke dokter terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.

Disamping itu, beberapa kondisi yang dapat beresiko terhadap bayi, antara lain:
  • Infeksi yang berat.
  • Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase(G 6 PD).
  • Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin
  • Beberapa penyakit karena genetik (penyakit bawaan atau keturunan).

:: :: :: BAGAIMANA TERJADINYA ? :: :: ::
Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana warna kekuningan dapat terjadi, baik pada proses alamiah (fisiologis) maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit?
Pada dasarnya warna kekuningan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain:
  • Proses pemecahan sel darah merah (eritrosit) yang berlebihan.
  • Gangguan proses transportasi pigmen empedu (bilirubin).
  • Gangguan proses penggabungan (konjugasi) pigmen empedu (bilirubin) dengan protein.
  • Gangguan proses pengeluaran pigmen empedu (bilirubin) bersama air.

Gangguan pada proses di atas (dan proses lain yang lebih rumit) menyebabkan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah meningkat, akibatnya kulit bayi nampak kekuningan.

:: :: :: PENGOBATAN :: :: ::
Pada bayi baru lahir dengan warna kekuningan karena proses alami (fisiologis), tidak berbahaya dan tidak diperlukan pengobatan khusus, kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Prinsip pengobatan warna kekuningan pada bayi baru lahir adalah menghilangkan penyebabnya.
Cara lain adalah upaya mencegah peningkatan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah. Hal ini dapat dilakukan dengan:
  • Meningkatkan kemampuan kinerja enzim yang terlibat dalam pengolahan pigmen empedu (bilirubin).
  • Mengupayakan perubahan pigmen empedu (bilirubin) tidak larut dalam air menjadi larut dalam air, agar memudahkan proses pengeluaran (ekskresi), dengan cara pengobatan sinar (foto terapi).
  • Membuang pigmen empedu (bilirubin) dengan cara transfusi tukar.

:: :: :: ANJURAN :: :: ::
Apapun jenisya, jika pembaca mendapati bayi kuning, sebaiknya konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak.
Meski disebutkan bahwa bayi kuning sebagian besar diantaranya karena proses alami (fisiologis) dan tidak perlu pengobatan, seyogyanya para orang tua tetap waspada, mengingat bayi masih dalam proses tumbuh kembang. Karenanya, konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak adalah langkah bijaksana.

Semoga bermanfaat, dan mudah-mudahan buah hati kita senantiasanya diberikan kesehatan.

Topik Terkait:

:: :: cakmoki :: ::


Tak pernah melihat k3lamin

Obrolan ringan.

TAK PERNAH SALING MELIHAT ALAT K3LAMIN

Seorang wanita hampir 60 tahun menolak diperiksa bisul di samping kemaluannya. Padahal yang memeriksa dokter wanita, padahal didampingi sang anak yang juga wanita, padahal di ruang berpelindung. Meski si anak memberi pengertian tentang pentingnya pemeriksaan untuk menentukan pengobatan, sang ibu tetap menolak.
Begini cuplikan dialognya.

Pemeran utama:
Ibu sakit bisul (ISB), dokter wanita alias istri (dw), saya (cakmoki)

ISB: "Bu, kulo sakit bisul, waune gatel lajeng kulo kukur ". ( Bu, saya sakit bisul, awalnya gatal kemudian saya garuk)
dw: " bisul wonten pundi BU ?" ( bisul di mana bu ? )
ISB *sambil senyum*: " celak selangkangan, teng ngriki " *sambil menunjuk tepat di tengah*. ( dekat selangkangan, di sini )
dw: " monggo kulo perikso " ( mari saya periksa) *sambil berdiri menuju ruang periksa, diikuti sang ibu sakit bisul*
Setelah masuk ruang periksa, terdengar dialog.
dw: " monggo Bu, diaturi ". ( mari Bu, silahkan )
ISB: " mboten ... mboten, isin ". ( tidak ... tidak, malu ) Terdengar suara tawa.
Setelah anak si ibu gagal memberikan pengertian, para wanita tersebut kembali duduk berhadapan dipisahkan meja.

ISB: " ngaten mawon, njenengan obati kadhos bisul lentune " ( begini saja, sampeyan obati seperti bisul lainnya )
dw: " perikso pak dokter mawon nggih ... " ( diperiksa pak dokter saja ya ) * sambil tertawa*
ISB: " ah, mboten, mboten usah nggih pak " ( ah tidak, tidak usah dilihat ya pak ) *sambil tertawa*

Sang anak yang mengantar mengatakan bahwa suaminya saja tidak pernah melihat. Tepatnya, kedua orang tuanya tidak pernah saling melihat alat k3lamin masing-masing. Kamipun tertawa semua.
saya: " ngaten mawon Bu, kulo perikso ndamel kocomoto cemeng ". ( begini saja bu, saya periksa memakai kaca mata hitam ) *tak kuasa menahan senyum*
ISB: " mboten ah, mangke ketingal ". ( tidak ah, nanti kelihatan )
saya: " namung merikso bisul, mboten ningali lentunipun ". ( hanya meriksa bisul, tidak melihat lainnya ) *pura-pura ambil kaca mata hitam*
ISB: " mboten, nyuwun obat kemawon. Bapake mawon mboten nate ningali ". ( tidak, minta obatnya saja. Bapaknya saja tidak pernah melihat )
Setelah menjelaskan tatacara minum obat dan evaluasinya, obrolan santai berlanjut.

saya: " dadhos mulai manten anyar mboten dhelok-dhelokan ? " ( jadi semenjak pengantin baru tidak pernah saling melihat ? ) *menggoda*
ISB: " blas mboten nate ". ( sama sekali tidak pernah )
saya: " kesupen mbokmenawi ". ( lupa barangkali )
ISB: " mboten, ah njenengan niki. Nopo njenengan dhelok-dhelokan ?". ( tidak, ah sampeyan ini. Apa sampeyan saling melihat ? )
Huaaaaa ... huaaaaa *kena deh* :P

Setelah semuanya selesai, *setelah bayar juga* kamipun tertawa renyah mengiringi ibu sakit bisul keluar ruangan. Hahaha

Hingga selesai makan bersama tengah malam, kami masih senyum-seyum.
Barangkali memang benar bahwa pasangan masa lalu tidak pernah saling melihat alat k3lamin mereka. Saya percaya karena kejadian semacam ini bukan yang pertama. Lagipula saya mengenalnya sejak lama, rasanya tak mungkin berbohong, apalagi anak si ibu mengatakannya.
Hehehe, tidak saling melihat dan memegang bisa punya anak, ibarat bergulat dalam gelap.
Di era sekarang, adakah wanita yang tidak pernah melihat alat k3laminnya sendiri ?
Entahlah, di pedesaan bisa saja terjadi, sedangkan di kota, meibi no ... meibi yes.
Meneketehe ;)

:: :: cakmoki :: ::

Selasa, Juni 05, 2007

Hangatnya Mentari

MENGHINDARI YANG MENYENGAT, MEMILIH YANG HANGAT
::: ::: ::: kalo bisa ::: ::: :::

Manusia dikategorikan makhluk berdarah panas, tidak seperti makhluk dua alam seperti kodok atau buaya, tidak juga seperti ikan yang kebanyakan berdarah dingin. Karenanya, amatlah wajar jika kita hampir selalu mencari kehangatan, dalam arti yang sebenar-benarnya, bukan kehangatan pelukan atau lainnya.

Bagi seseorang yang biasa tinggal di daerah dingin, sinar mentari di jajaran katulistiwa adalah impian. Mereka rela menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk berjemur di pantai. Sedangkan bagi kita yang hidup di daerah berudara panas, kesejukan adalah dambaan. Ini bukan membicarakan ketidak puasan ... sumpah ™ ... melainkan obrolan tentang kenyamanan, terutama berhubungan dengan aktifitas kita sehari-hari.

Tak mengherankan bila para pekerja di tempat ber-ac akan menyempatkan diri mencari kehangatan, sebaliknya para pekerja di tempat panas akan merasa nyaman saat berteduh di tempat sejuk. Kondisi ini amatlah wajar sebagai bentuk reaksi tubuh menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mencapai suhu ideal.

::: ::: ::: Di Balik Pancaran Sinar Mentari ::: ::: :::
Kita sudah paham bahwa (secara garis besar) sinar matahari memancarkan 2 gelombang, yakni sinar gelombang panjang (infra merah) nan hangat dan sinar gelombang pendek (ultra violet) yang menyengat. Tentu keduanya tidak nampak seperti namanya. *jadi inget kerlip lampu waktu nge-drum*

Di bidang kesehatan, sinar infra merah digunakan sebagai salah satu pilihan metode pengobatan (fisioterapi) pada kasus pegal dan nyeri otot ataupun sendi. Sinar tersebut berfungsi memperlancar peredaran darah sehingga diharapkan dapat memperbaiki sistem pembuangan sisa metabolisme di bagian otot atau sendi yang sakit. *eit, sakit urat tidak identik dengan asam urat lho*

Adapun sinar ultra violet diperlukan kulit untuk mengubah substansi lemak tertentu menjadi vitamin D yang berguna dalam proses penyerapan kalsium (dari makanan yang dicerna). Pada masa pertumbuhan (anak-anak), kalsium diperlukan untuk pertumbuhan tulang. Oleh sebab itu biarkanlah anak-anak punya kesempatan bermain di tengah belaian sinar mentari.

Manfaat lain sinar matahari adalah kemampuannya dalam melenturkan kulit, mengencangkan otot, membuat kulit jadi lembut, lebih berwarna dan sehat. Menurut para peneliti, hal ini karena aktifasi istem pembuangan sisa metabolisme melalui kulit menjadi lebih lancar. *makanya, gak usah takut item, .... mancing yuk ;) * ... asal tidak kebanyakan berpanas ria ...

::: ::: ::: Ukuran Yang Bermanfaat ::: ::: :::
Penelitian menyebutkan bahwa kehangatan sinar matahari dapat memberi manfaat bagi tubuh jika kita dapat berpelukan dengan pancaran mentari selama 15-30 menit setiap harinya. Duhhh, asyiknya ...
Ada anggapan bahwa sinar mentari yang nikmat sekitar jam 9 pagi dan jam 4 sore, namun anggapan tersebut tidak berlaku di daerah yang jarang melihat matahari.

Sementara itu, bagi kita yang beraktifitas (sekolah ataupun bekerja) seharian di ruang tertutup, perlu menyempatkan diri menyapa sinar mentari. Apalagi jika berangkat pagi sebelum matahari terbit naik mobil tertutup berkaca gelap, pulangnya petang saat matahari terbenam. Wuih, lama-lama seperti bangsawan pingitan, pucat. Ibarat makanan, rasanya hambar. *halah*
Begitu pula para blogger, pagi ngeblog di kantor, siang ngeblog di rumah, tak ada salahnya keluar sebentar. Tersenyumlah pada mentari, biarkan sinarnya menghangatkan tubuh, tarik napas panjang, regangkan badan dan tangan. *asal jangan keliatan keleknya*

::: ::: ::: Sengatan Sinar Yang Merugikan ::: ::: :::
Seperti halnya kaidah umum, "terlalu" banyak terpapar sengatan sinar matahari dapat menimbulkan kerugian yang tidak diinginkan. Beberapa penyakit kulit disebutkan berhubungan dengan paparan sinar matahari yang berlebihan dan berkepanjangan. Paparan sinar matahari berkepanjangan dapat juga mempercepat proses penuaan kulit.
Oleh sebab itu, jika karena suatu hal mengharuskan kita terpapar sinar matahari, misalnya rekreasi di pantai, memancing atau karena pekerjaan, pastikan membekali diri dengan pelindung kulit (sunscreen dalam bentuk lotion, jelly, dll) . Sedapat mungkin hindari paparan sinar matahari pada suhu puncak antara jam 10.00-15.00.

Akhirnya, mari nikmati hangatnya sinar mentari secara bijak।

Semoga bermanfaat

» ke atas